
Petenis asal Prancis, Gaël Monfils, akhirnya angkat bicara soal pertanyaan klasik di dunia tenis: siapa lawan paling menyulitkan di antara Tiga Besar? Dalam berbagai kesempatan, Monfils kerap berhadapan dengan trio legendaris yang mendominasi era modern, yakni Roger Federer, Rafael Nadal, dan Novak Djokovic. Namun menurutnya, ada satu nama yang secara konsisten paling membuatnya kesulitan.
Monfils, yang dikenal dengan gaya bermain atraktif dan kemampuan bertahan luar biasa, mengakui bahwa ketiganya memiliki karakter berbeda. Federer, kata dia, adalah pemain dengan bakat alami dan kreativitas tinggi. Permainan satu tangan backhand, variasi slice, serta kemampuan menyerang ke depan membuat Federer sulit ditebak. “Melawan Federer terasa seperti bermain catur dengan kecepatan tinggi,” ungkap Monfils dalam sebuah wawancara.
Sementara itu, Nadal menghadirkan tantangan fisik yang sangat berat. Topspin forehand khasnya, terutama di lapangan tanah liat, memaksa lawan terus bergerak dan bertahan dalam reli panjang. Monfils menyebut duel melawan Nadal sebagai pertarungan mental dan stamina. “Anda harus siap berlari tanpa henti. Setiap poin terasa seperti pertempuran,” ujarnya.
Namun ketika ditanya siapa yang paling menyulitkan secara keseluruhan, Monfils tanpa ragu menunjuk Djokovic. Menurutnya, konsistensi dan kelengkapan permainan petenis Serbia tersebut membuatnya paling sulit dikalahkan. Djokovic dinilai hampir tidak memiliki celah. Ia mampu bertahan dengan sangat solid, mengembalikan bola-bola sulit, sekaligus menyerang di momen yang tepat.
“Melawan Novak, Anda merasa sudah memainkan poin yang sempurna, tetapi bola masih kembali,” kata Monfils. Ia menilai kemampuan return servis Djokovic sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah tenis. Hal itu membuat servis—yang seharusnya menjadi keuntungan—sering kali tidak memberikan dampak signifikan saat menghadapi sang petenis Serbia.
Rekor pertemuan juga menjadi gambaran betapa sulitnya Monfils menghadapi Djokovic. Dalam banyak duel di turnamen besar, termasuk Grand Slam dan Masters 1000, Monfils kerap kesulitan menemukan cara untuk menembus pertahanan rapat Djokovic. Bahkan ketika sempat unggul, tekanan mental yang diberikan Djokovic membuat situasi bisa berbalik dengan cepat.
Meski demikian, Monfils tetap menaruh respek besar kepada ketiganya. Ia menyebut era Tiga Besar sebagai periode emas tenis dunia. Dominasi Federer, Nadal, dan Djokovic bukan hanya soal jumlah gelar, tetapi juga tentang konsistensi luar biasa selama lebih dari satu dekade. “Mereka memaksa kami semua untuk meningkatkan level permainan,” ujarnya.
Monfils sendiri dikenal sebagai salah satu entertainer di lapangan. Aksi-aksi atletisnya sering mengundang decak kagum penonton. Namun menghadapi Tiga Besar, terutama Djokovic, ia merasa harus bermain di level nyaris sempurna untuk memiliki peluang menang. Satu kesalahan kecil saja bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Pengakuan Monfils ini kembali menegaskan betapa istimewanya generasi tersebut. Setiap pemain memiliki keunggulan unik—Federer dengan keanggunan teknik, Nadal dengan semangat juang dan dominasi di clay, serta Djokovic dengan keseimbangan komplet di semua aspek permainan. Bagi Monfils, menghadapi mereka bukan hanya tantangan, tetapi juga kehormatan.
Kini, ketika era tenis perlahan memasuki babak baru dengan munculnya generasi muda, pernyataan Monfils menjadi refleksi tentang betapa beratnya persaingan di masa keemasan tersebut. Dan di antara tiga raksasa itu, bagi Gaël Monfils, Novak Djokovic adalah lawan yang paling menyulitkan—bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara mental dan taktis.





