Lydia Ko kembali menjadi sorotan dunia golf wanita menjelang gelaran U.S. Women’s Open 2026. Pegolf asal Selandia Baru itu berpeluang melampaui rekor pendapatan sepanjang masa milik legenda LPGA, Annika Sorenstam. Namun, alih-alih membicarakan peluang tersebut dengan penuh ambisi, Ko justru menunjukkan sikap rendah hati yang menjadi ciri khasnya selama berkarier.
Meski hanya membutuhkan tambahan hadiah untuk melewati catatan pendapatan Sorenstam, Lydia Ko menegaskan bahwa perbandingan tersebut tidak sepenuhnya adil mengingat besarnya hadiah turnamen pada era modern dibandingkan saat Sorenstam mendominasi LPGA.
Lydia Ko Dekati Rekor Pendapatan LPGA Milik Annika Sorenstam
Saat ini, Lydia Ko menempati posisi kedua dalam daftar pendapatan sepanjang masa LPGA dengan total lebih dari USD 21,8 juta. Sementara itu, Annika Sorenstam masih berada di puncak dengan sekitar USD 22,5 juta yang dikumpulkan sepanjang karier legendarisnya.
Dengan hadiah besar yang tersedia pada turnamen mayor saat ini, peluang Ko untuk mengambil alih posisi teratas sangat terbuka. Namun, pegolf berusia 29 tahun tersebut memilih untuk tidak terlalu memikirkan pencapaian finansial tersebut.
Menurut Ko, peningkatan hadiah turnamen dalam beberapa tahun terakhir membuat perbandingan antar generasi menjadi kurang seimbang. Ia mengakui merasa tersanjung bisa disejajarkan dengan nama sebesar Annika Sorenstam, tetapi tetap menilai prestasi sang legenda jauh lebih mengesankan.
Lebih Menghargai Gelar dan Kemenangan
Alih-alih fokus pada rekor pendapatan, Lydia Ko mengaku lebih menghargai jumlah kemenangan dan gelar yang diraih sepanjang karier. Hingga saat ini, Ko telah mengoleksi 23 gelar LPGA dan tiga trofi major, sebuah pencapaian yang luar biasa bagi pegolf yang pernah menjadi nomor satu dunia termuda dalam sejarah golf wanita.
Meski demikian, Ko menilai pencapaiannya masih jauh dibandingkan Annika Sorenstam yang berhasil mengoleksi 72 kemenangan LPGA sepanjang kariernya. Karena itu, ia merasa rekor pendapatan tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran untuk menentukan kebesaran seorang atlet.
Sikap tersebut menunjukkan bagaimana Ko tetap membumi meskipun telah menjadi salah satu pegolf paling sukses di generasinya.
Karier Gemilang Lydia Ko
Nama Lydia Ko sudah dikenal dunia sejak usia remaja. Ia mencatat sejarah sebagai salah satu pegolf termuda yang meraih kemenangan di LPGA dan kemudian menjadi pemain nomor satu dunia pada usia yang sangat muda. Seiring berjalannya waktu, Ko terus menambah daftar prestasinya dengan berbagai gelar bergengsi dan medali Olimpiade.
Pada 2026, performanya masih berada di level elite. Salah satu bukti terbaru adalah ketika ia membukukan skor terendah sepanjang kariernya, 60 pukulan, pada Ford Championship. Catatan tersebut nyaris menyamai skor ikonik 59 yang pernah dicetak Annika Sorenstam pada 2001.
Prestasi tersebut kembali menegaskan bahwa Ko masih menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam golf wanita dunia.
Fokus Kejar Grand Slam Ketimbang Rekor Uang
Menariknya, Lydia Ko saat ini lebih fokus mengejar target yang dianggap lebih prestisius, yaitu melengkapi Career Grand Slam. Untuk mewujudkannya, ia masih membutuhkan gelar U.S. Women’s Open atau Women’s PGA Championship.
Bagi Ko, pencapaian tersebut memiliki nilai historis yang lebih besar dibandingkan sekadar menjadi pemilik rekor pendapatan tertinggi di LPGA. Pendekatan ini mencerminkan mentalitas seorang atlet yang lebih mengutamakan warisan prestasi daripada angka di rekening.
Kesimpulan
Peluang Lydia Ko untuk melampaui rekor pendapatan Annika Sorenstam memang semakin dekat. Namun, respons yang ditunjukkannya justru memperlihatkan kerendahan hati seorang juara sejati. Ko memilih untuk menghormati pencapaian generasi sebelumnya dan menilai bahwa jumlah kemenangan serta gelar tetap menjadi ukuran utama dalam dunia golf.
































































